Masa kecik2 dulu teringat plak yg
mak aku selalu ler baca buku cerita kat aku, salah 1 cerita dia ialah
HUNCHBACK OF NOTRE DAME Victor Hugo (1802-1885) masa dengar tu sedih, geram semua ader. best sangat,korang pernah tak baca
cerita ni? kalo tak meh sini aku cerita sikit buah butirnyer ( hish pantang jer
sebut buah n butir, ader jer la yg korang nak melengcong huhuhuhu). So cerita
nyer begini :
Paris,
Januari 1482. Perayaan hari Epifani yang diadakan serentak dengan Festival Kaum
Dungu di alun-alun Paris berlangsung dengan meriah. Hampir semua penduduk Paris
larut dalam euforia yang aneh, kecuali mungkin sang penyair dan ahli falsafah
Pierre Gringoire, yang pementasan dramanya terganggu dengan kedatangan Kardinal
dan rombongannya. Kemudian ada seorang gadis gipsi cantik yang menari dengan
lincah di jalan, seekor kambing berbaring di permaidani di sudut di sisinya.
Gadis luar biasa ini bernama La Esmeralda. Rombongan orang yang menontonnya
ternganga oleh kecantikan dan kelincahan kakinya yang anggun, termasuk sang
wakil uskup dari Katedral Notre Dame, Dom Claude Frollo. Ia begitu asyik
memerhatikan si gadis menari, sesuatu yang tak patut dilakukan oleh seseorang
yang telah bersumpah untuk hidup selibat.
Di
saat yang sama, ada Quasimodo, si bongkok buruk rupa yang adalah pemukul loceng
gereja Notre Dame. Quasimodo dipungut oleh Claude Frollo ketika berusia empat
tahun ketika ia ditinggalkan di depan gereja, begitu buruk rupa sehingga
menjadi sasaran hujatan orang. Sang pendeta membesarkannya dengan susah payah
dan Quasimodo tumbuh dengan hanya dua bentuk kasih sayang yang dikenalinya,
yang pertama kepada tuannya Frollo, dan yang kedua untuk Katedral Notre Dame.
Kembali
ke La Esmeralda, suatu malam ketika ia hendak pulang ke Mahkamah Keajaiban, ia
merasa bahawa dirinya sedang disabotaj. Seorang lelaki misteri berpakaian
hitam-hitam dan pembantunya yang berperawakan besar menghalang gadis itu. Saat
itulah Kapten Phoebus de Chateaupers yang gagah dan tampan lewat dan
menyelamatkan si gadis cantik. La Esmeralda jatuh cinta pada pandangan pertama
kepadanya, namun lenyap segera sesudah sang kapten menyelamatkannya. Pada suatu
malam di waktu yang lain, gadis yang dimabuk cinta itu bertemu dengan sang
kapten, yang memandang si gadis dengan nafsu badaniah yang menggelegak. Pertemuan
mereka berakhir dengan sebuah golok menancap di tubuh Phoebus. Pagi harinya La
Esmeralda diseret ke penjara oleh sekawanan prajurit penjaga. Tiang gantungan
telah menanti si gadis.
Quasimodo
menyelamatkan si gadis cantik dari tiang gantungan dan membawanya ke Notre Dame
sehingga ia terlindung oleh suaka yang diberikan gereja. Namun keselamatan La
Esmeralda masih terancam. Di dalam dinding Notre Dame masih ada Claude Frollo
yang dibakar kecemburuan yang amat sangat melihat kedekatan anak asuhnya yang
buruk rupa dengan La Esmeralda. Sementara cinta si gadis justeru tertumpu pada
kapten Phoebus yang sesungguhnya tidak mati, tetapi beransur-ansur sembuh dari
lukanya dan kembali kepada tunangannya, gadis bangsawan bernama Fleur-de-Lys.
Sementara Parlimen telah memerintahkan supaya La Esmeralda kembali diseret ke
tiang gantungan, teman-teman si gadis di Mahkamah Keajaiban, orang-orang gipsi,
telah menyusun rencana untuk menculik si gadis dari tempat perlindungannya.
Mereka datang menyerbu Notre Dame.
***
Karya
yang indah sekaligus tragis dan mengerikan dengan segala kemegahannya. Inilah
karya yang paling terkenal dari sasterawan besar Perancis, Victor Hugo
(1802-1885). Karya yang berjudul asli Notre Dame de Paris (1831) ini dikenali
seluruh dunia dengan judul The Hunchback of Notre Dame , sementara terjemahan
ke bahasa Malaysia oleh Penerbit Serambi terbit dengan tajuk Si Cantik dari
Notre Dame . Mengapa "The Hunchback" lantas diterjemahkan menjadi
"si cantik" ? Setelah selesai membaca buku ini saya baru paham, pusat
cerita dalam kisah ini sebenarnya bukanlah Quasimodo si bungkuk, melainkan si
gadis cantik, La Esmeralda, yang dicintai sekaligus dikutuk. Pernah menonton
filem versi Disney dari novel ini? Bersiaplah kerana apabila membaca buku ini
anda akan sedar bahawa ceritanya jauh berbeza dengan versi Disney.
Novel
ini membuktikan bahawa karya klasik tak melulu muram dan serius, kerana Victor
Hugo juga menyelitkan humor di dalam novel ini. Beberapa adegan yang lucu
antara lain ketika Quasimodo yang tuli akibat bunyi loceng gereja disidang oleh
seorang hakim yang juga pekak, kemudian watak Gringoire yang tidak boleh
berhenti bercakap, dan adegan ketika Jehan Frollo, adik Claude Frollo, datang
menemui kakaknya untuk meminta wang. Sang kakak menyoal adiknya mengenai
pelajarannya, dan sang adik menjawabnya dengan apa yang kita sebut hari ini
sebagai "ngeles". Ini sebahagian perbualan mereka.
"Bagaimana
studimu mengenai perintah Gratian?"
"Aku
kehilangan buku catatanku."
"Dan
bagaimana dengan humaniora Latin?"
"Seseorang
mencuri kopi naskah Horatius."
"Dan
bagaimana dengan pelajaranmu mengenai Aristotle?"
"Lho,
apakah kakak tak tahu bahawa salah seorang frater di gereja berkata bahawa
pendukung bidaah selalu mencari perlindungan di bahwah kekusutan metafizik
Aristotle? Aku tak perlu mengetahui apa pun mengenai Aristotle. Aku tak ingin
metafisikanya menghancurkan agamaku. "
Terdengar
sangat familier? Ternyata "ngeles" tidak hanya berlaku di zaman
moden, lho!
Penterjemah
juga menambah kelucuan dalam bahagian ketika Phoebus memanggil La Esmeralda
dengan "Semar" lantaran ia kesulitan menyebut nama si gadis.
Penulisan
Hugo yang sangat indah, cerita yang dijalin antara ketiga tokoh utama dan
banyak tokoh pendukung yang mempunyai peranan masing-masing, terjemahan yang
digarap dengan baik oleh Sunaryono Basuki KS, membuat saya tidak ragu
memberikan lima bintang untuk novel ini, sebagaimana saya juga memberi lima
bintang untuk novel karya Hugo yang lain, Les Miserables .
Review
buku ini dipost dalam rangka merayakan ulangtahun ke-210 Victor Hugo (26 Februari 1802
- 26 Februari 2012)
-RIP Bro-
CLICK DOWN HERE
suka sangat pic yang last tu
ReplyDeleteklasik
bengkok pun takpe. hehehe... (^_^)
ReplyDeletekalo bongkok hunchback, so kalo bengkok kira hunchside la ni kan..keke =]
ReplyDelete